Selasa, 20 Januari 2015

DIANTARA MIMPI

Diantara Mimpi
Oleh:
ALVAN.M.A
Cerita ini adalah Versi pendek dari Buku Diantar Mimpi yang saya buat sendiri pada tahun 2012, seperti kisah sebelumnya, kisah ini disajikan dengan sederhana dan panjang, namun sekarang tersaji dalam edisi pendek dengan penceritaan yang lebih padat. Sedikit ada perubahan dari kisah aslinya membuat cerita ini akan menampilkan kisah cinta yang tidak biasa dari kisah sebelumnya.

Bila cinta itu ada, mengapa datanganya harus terlambat. Bila kasih itu ada, mengapa dapat menyakiti sukma. Aku tak pernah berfikir bagaimana akhir hayatku, aku tak pernah berfikir apakah orang yang aku cintai itu akan mencintaiku.
Hanya cinta pada titik tertentu yang dapat meleburkan ego, memang cinta itu penyakit yang mematikan namun cinta itu tak salah, cinta itu laksana lautan yang dapat menenggelamkan apa saja 
termasuk jasat dan batin. Cinta juga bak petir yang tiba tiba menyambar

Sudah lama aku mencintainya. Bila bisa dihitung kukira dari sejak SMP, dimana saat aku kelas 1 dan dia kelas 2. David namanya, itupun kudapat identitasnya secara sembunyi – sembunyi. Aku bersyukur pernah dekat dengannya walau hanya sekedar teman OSIS. Dikala dulu masih ingat diriku saat hendak naik flaying fox “Nur pegangan yang kuat”, suruhnya.
Itulah dimana aku mulai kagum akan dirinya. Begitulah cinta, sakit tetapi mengasyikkan, datang laksana petir yang tanpa diketahui kedatangannya kemudian tiba tiba menyambar. Dikala itu aku tak tahu namanya tapi akhirnya aku tahu juga. Teringat kembali  dibenakku saat kami melantik  anak kelas 1 SMP yang sedang MOS. David menyembunyikan bumbu mie instanku. Sebenarnya niatku adalah merebut bumbu itu namun Tak sengaja kita jatuh berdua dan tiba – tiba mati lampu. Kami berdua tertawa bersama, menertawakan kebodohan satu sama lain.

Tiada daya diriku, jantungku laksana bom yang siap meletus, namun walau begitu aku terlalu malu dan takut kalau dia tahu perasaanku. Sampai saat dia kelas 3 SMP dia menjadi play boy kelas kakap. Bahkan dia dengan tega berpacaran dengan  sahabat terbaikku, Maria namanya. Ingatlah kini kejadian dikelas 8D, kejadian yang meremuk redamkan batinku yang rapuh itu “Maria kamu kok  kelihatan bahagia sekali hari ini?”Tanyaku. “iya, saya memang sedang bahagia, oh wahai sahabatku, tahukah kamu bahwa aku sedang berpacaran dengan David.” Kata Maria dengan senyum yang lebar. Hatiku saat itu juga seakan berhenti,aku hanya tersenyum didepannya, aku tidak ingin dia melihat teririsnya hatiku yang rapuh dan lunak.  Karena aku juga tahu satu hal “Lho Maria, tak tahukah engkau, bahwa David itu play boy kelas kakap?”Tanyaku dengan mengkerutkan wajah. Aku tak ingin sahabatku sakit nantinya.
“Apa apaan sih kamu, jangan berfitnah akan diah didepanku?”Jawab  Maria yang sedikit tiada terima. Emosi diwajahnya meletup letup. Kata fitnah itu amat pedas sekali bagiku.
“Aku tak dusta Maria” Sahutku.’’ Kau tidak punya bukti Nur, sudahlah tutup saja mulutmu, dari pada kau berfitnah.’’ Bentaknya. Hatiku sakit lantaran pedang tak bertulang dari sahabatku sendiri. Aku segera terbangun dari tempat duduk dan menuju toilet, air mataku telah keluar begitu saja. Aku terduduk di         keramik Toilet. Tanpa sengaja dadaku terasa sakit, hingga aku terbatuk batuk. Kututup hidungku dan terkejut aku. Kulihat ada darah dari hidungku karena batuk yang perih. Mungkin aku terlalu terpukul atas kejadian ini.
Dari hari itulah sifat Maria sedikit dingin kepadaku, aku dilemma. Maria adalah sahabatku tapi aku tak mau dia disakiti oleh orang yang aku cintai. Dirumah aku hanya terdiam, tak menyangka bahwa aku harus merenggang dengan sahabatku yang bernama Maria itu. Kota Malang diguyur hujan, aku sering duduk sendirian didepan jendela kamarku. Melihat rintikan hujan, orang tuaku dirasa mulai khawatir, aku tak mau mereka berdua tahu akan masalahku. Disekolah aku duduk disebelah Maria, kucoba untuk menyapanya “Maria?”Sapaku. Ia hanya tersenyum kecil tanpa sepatah katapun.
Aku sering menuju ke toilet hanya untuk menitihkan air mataku. Diruang OSIS aku terdiam dengan menulis buku harianku. Menangis hati saya, laksana hujan yang tak kunjung henti. Cintaku entah kemana sahabatku membeku didepanku. Aku tak mau sahabatku lebih sedih dariku nantinya, tapi diriku pula tak mau menangis didalam qolbu seperti ini.
Wahai David, tiada pernah hilang kau dari hatiku, kau sudah laksana api yang terlanjur membakarku. Kau telah membawaku kehutan cintamu lalu kau biarkan aku sendiri didalamnya, tiada tahu keluarnya jalan. Oh Maria, juga mencintainya, namun apa daya diri ini.
“11 Maret 2008”
Baru kutulis tanggalnya, sebuah tangan dingin menutup mataku “siapa?”Tanyaku. Ia tak bersuara, namun dari sentuhan tangannya tentu tahulah aku siapa dia. Jantungku berdetak kencang saat itu juga tubuhku gemetar dikala itu juga “David?”Tebakku.
“Kamu kok tahu sih,nggak seru??” Ambeknya. Aku tersenyum kecil “siapa sih yang nggak faham akan kamu?”Jawabku. ‘’hehe.’’ Tawa kecilnya, ia masih sempatnya bercanda denganku. Ingin pula aku menyuruhnya untuk tidak menyakiti hati Maria. David memang trpikel orang yang riang, tak sepertiku yang pendiam. Meski pendiam, aku kadang juga humoris bila lagi Mood. Aku juga suka bercandda asal jangan keterlaluan. David memang benar benar tampan, entah bagaimana Tuhan mengukir wajah tampan itu.
Masa itu adalah masa disaat kami masih berteman karena satu jadwal piket. Tiada daya kepadanya, aku terlalu takut dia tahu akan rasa hatiku. Walau aku dekat dengannya dan sedikit renggang dengan Maria. Namun aku bersyukur karena Davd meski jadi play boy masihlah cinta kebanggaanku. Dia masih mau berteman denganku. Karena tak tahan aku juga pernah renggang dengannya.
Dikala itu aku pergi ke swalayan, David masih berstatus pacaran dengan Maria. Namun dengan mesranya ia bersama wanita lain, bukankah dia pula pernah berjanji. Untuk Maria, tak akan dia sakiti hatinya. Aku tak mau Maria menangis lebih sedih karena ditikam dari belakang. Kajadian itu kuabadikan dengan ponselku. Aku menyelinap di bagian kosmetik dan kupotret adegan mesrah mereka, keringat dingin mengguyur leher belakangku. Penasaran, senang, sedih, kecewa, marah dan cintaku beraduk menjadi satu.
Malam harinya ibuku yang tadinya sibuk mengerjakan tugasnya tiba tiba  bertanya “malam begini mau kemana?” Tanya ibuku, aku mengenakan jaket abu abu yang panjangnya sepaha, Soal Ibuku ia menjadi TU di SMP ku. Kadang ia menyelesaikan tugasnya dengan laptop milik sekolah. Jadi dilaptop itulah aku dapat informasi seluruh siswa termasuk David dan fotonya.
, apalah daya diri saya ini. Aku memang sudah gila, David memang tampan, mempesona, rambutnya jabrik dan tubuhnya tinggi. Padahal dulu waktu  LDKS dimana aku awal kenal dia. Dia terlihat culun namun tampan sempurna.Tak usah ku jawab lama – lama pertanyaan ibuku “saya hendak kerumah Maria bu” Jawabku.
“tapi ini sudah jam 8 malam” Sahut ibuku. Ia termenung sejenak didepan lemari “bukankah rumah Maria dekat, Hanya dikomplek sebelah?” Jawabku. Kurasa ibuku mulai tenang, ayahku sibuk mengurusi pekerjaannya karena ia seorang dosen seni budaya “saya pamit bu?” Ucapku. Kucium pula tangannya.
Kugunakan sepeda motor Mio milikku, tak lama kerumah Maria  sesampainya aku didepan rumahnya kuketuk pintunya, dibukalah pintu coklat itu“nur silahkan masuk!” Kata Maria. Kami duduk disofa ruang tamu dengan 2 gelas kopi susu. Ibu Maria asyik menonton sinetron Putri Yang Ditukar. Ayah Maria sedang kerja ke Kalimantan.“Jadi gini Maria” ucapku untuk mengawali percakapan ini “ada apa nur?”Penasarannya.
“Saya mohon janganlah kamu lanjutkan hubunganmu dengan David!”Suruhku. Wajah Maria mulai memerah disulut emosi, namun Maria berusaha menahan emosinya yang bisa pecah kapan saja. Maria memejamkan mata dan bernafas pelan, aim alas membahas ini emua.
“Nur tolong jangan bahas itu lagi, aku lelah berdebat” Pinta Maria yang menggelengkan kepalanya. Wajahnya amat lesu sekali.
“Masih tak percayakah kau kepadaku Maria?Masih kau anggap aku ini dusta dimatamu? Masih kau lihat diriku sebagai tukang fitnah kepada sahabatnya sendiri? ”Jawabku.Tak terasa pipiku sudah basah begitu saja. Air mataku jatuh tanpa kusadari, sungguh keras kepalanya sahabatku ini, namun emosinya pecah jua setelah kata kataku tadi.
“sudah nur!” bentaknya, hatiku laksana petasan yang meledak dan pecah berkeping keeping. “maaf Maria,aku ini sahabatmu sedari SD, aku bukanlah pendusta, David juga temanku lantaran kita sama – sama menjabat OSIS. Aku punya bukti bahwa dia juga sudah punya pacar. Dia itu Play Boy, kamu itu dipermainkan olehnya. Insaflah Maria bahwa tidak ada cinta dihatinya akan kau. Jangan kau biarkan laki laki itu menyayat hatimu perlahan. Ini semua hanya cinta monyet, masa depanmu masih panjang. Tahukah kau akibat sakit cinta, pernahkah kau mendengar berita orang bunuh diri lantaran diputuskan pacarnya, atau orang yang sakit lalu meninggal karena hanya dipermainkan. Jangan kau turuti rasa itu sebelum fatal akhirnya”Jelasku. Aku amat ngotot dan menangis perlahan. Berusaha kupelankan suaraku agar ibunya tak melihat perdebatan ini.
Kutunjukkan ponselku dan kuperlihatkan jua gambar mesra David dengan wanita lain. Maria kemudian syok dan duduk disofa dengan ambruk, tangisnya tak tertahankan. Kupeluk sahabatku itu “ini cinta monyet Maria, walau haruslah kita insaf bahwa cinta monyet juga menyakitkan akhirnya.”Ujarku.
“Maafkan aku Nur?” pinta Maria dalam tangis. Ia amat tak menyangka dengan semua ini, namun bila bisa dirasa, akulah yang lebih sedih. Aku hanya bisa melihat tak dapat berbuat, andai saja kumiliki David.
Keesokan harinya dikala Maria hendak kekantin David datang, Maria segera bangun.’’ Maria kamu mau ngapain?’’ tanyaku.’’ Kulabrak tu anak.’’ Jawabnya.’’ Maria, jangan, jangan kau utamakan Emosi. Kita bisa menyelesaikan ini dengan kepala dingin.’’ Ujarku berkerut. Tak mau saya bila ada keributan, ‘’ Sudah deh, gak usah ikut campur. Mari sesegera mungkin berdiri didepan David dan menampar pipi Davit, aku hanya duduk manis dengan amat khawatir. “Dasar play boy, aku bukan boneka, teganya kau” bentak Maria, banyak siswa yang melihat. Bisa dibilang hampir seluruh siswa berkerumun.
“Apa sih maksutmu?” bentak David pula yang kini mulai berkerut wajah seolah tiada dosa dan tiada mafhum apapun. “Jangan kau penuh kata, sudah muak aku, ini siapa?”Kata Maria sambil menunjukkan foto itu.
“Darimana kau dapat foto ini?” Tanya David, wajahnya menunjukkan kemarahan dan pertanyaan. Aku merasa bersalah sekali, karena mengakibatkan kegaduhan ini. Namun kalau dibiarkan saja, bagaimana dengan sahabatku.
“Tak penting, yang jelas mulai detik ini sirna hubungan kita” Bentak Maria, ia segera pergi dan menarik tanganku menuju kelas. Air mata Maria terpecah jua. Maria dan David putus. Harapan hatiku tiada celah karena David yang telah membenciku. Teringatlah aku kejadian setelah David putus dengan Maria, saat sekolah telah sunyi David mengajakku bicara empat mata didepan LAB. Suasana sepi disekolah, hanya kita berdua, tak mampu kupandang mata indahnya. Hatiku serasa sesak oleh getaran cinta yang meletup letup.
“Maksutmu apa? kau beri tahu Maria tentang semua itu” Tanya Davit dengan wajah emosi. Wajahnya tampannya kini berubah menjadi wajah yang amat kutakuti, bukan karena garang, tapi karena aku takut dia menjauhi aku.
“Maria itu sahabatku, tak mungkin aku biarkan dia kau sakiti” Bentakku pula.Tak kuasa aku, aku laksana batu yang kini hanya diam .Air mataku meleleh dibentak oleh orang yang aku cintai ini. “Kau memang teman yang tak bisa jaga mulut. Kau tiada beda dengan burung beo yang tak bisa diam, kau gagalkan rencanaku, kau permalukan aku. Puas kau sekarang Nur, Puas Kau.’’ Bentaknya. Aku hanya menunduk dan menangis, batinku, hatiku semuanya bersedih dan menangis pilu.’’ Dari sekarang anggap aku tak pernah kau kenal” Suruhnya.
 “Apa maksutmu?”Tanyaku dengan suara parau. “Jauhi aku, aku sudah muak denganmu!” ucap David
“Jangan!”suruhku dengan tangis.
Suaraku lemah, aku hanya menangis sendiri, David segera mengenakan jaket hijaunya dan ia meninggalkanku sendiri. Aku terpaku menangis dengan menghadap kebawah. Apa yang adapat kuperbuat, aku lemah laksana kertas yang hangus dibakar dan hancur dibasah. Cinta yang selama ini aku simpan dalam air mataku telah pergi.
Cinta yang kuharap sedari dulu telah  entah kemana. Gundah diriku, rasanya aku ingin dicabut saja nyawanya bila harus berjauh darinya.Padahal dialah yang hadir dinyata, mimpi bahkan diantara mimpiku. Sejak itulah aku jauh renggang darinya, sampai dia lulus SMP. Akupun menempuh kelas 3 dengan hati yang kosong. Teman-teman mulai malas denganku karena aku bukan periang seperti dulu lagi. Masih syukur aku karena Maria masih jadi sahabat baikku, dia tak bosan bersahabat denganku ini. Ketika David akan diwisudahi, aku menampilkan puisi dan pidato Bahasa Inggris, Untuk Puisi kuucap sendiri namun untuk Pidato Bahasa inggris, akudan Marialah yang menampilkannya.
Daun
Aku ini tergeletak sendiri
Menangis oleh  sesal
Apa daya diri ini, tiada suka dirasa
Akulah yang terbuang
Akulau yang terusir jauh dari batipuh cintamu
Tiada kuasa batin saya.
Matanya melihat tapi tak bersinar
Hidunganya mencium tapi sudah tiada peka
Telinganya mendengar namun sudah tiada mafhum dengan apa yang didengarnya.
Andaikan aku pohon yang punya akar,
Aku hanya daun yang terserak
Aku hanya diam menunggu ajal
Tertiup angin diriku dan pergi entah kemana

Puisi itu kutulis dengan airmata yang tiada habis linangnya. Masa itu adalah masa yang menyakitkan bagiku sampai aku dan keluargaku pindah ke Kepanjen. Aku masuk SMA Negeri 2 Kepanjen, Maria bersekolah di SMK Farmasi Lawang. Hidupku mulai berwarna ketika aku kenal dengan laki-laki tampan bernama Noval. Wajahnya mirip David kecuali matanya yang sipit seperti orang cina. Awal melihat dia tentulah aku amat terkejut, namun dirasa ia membuatku merasa hidup. Banyak gadis-gadis sekolah sini yang suka akan dirinya. Bagaimana tidak, laki laki tampan nun kaya raya itu telah diluluhkan hatinya. satu-satunya yang telah meluluhkan hati seorang Noval adalah Zia. Dia gadis cantik nun kaya namun emosional. Hatiku berdesir didekatnya karena aku merasa Davidlah yang ada didekatku.
Rinduku memuncak, ini mengenai kisahku dengannya. Ketika itu aku berada dilantai tiga dekat gudang, melihat pemandangan kota Kepanjen. Melihat stasiun dan rel yang lurus dipinggir sawah. Aku sedang termenung ingat akan kata David dan masa masa SMP “Anggap aku tak pernah kau kenal” setiap mengingat kata-kata itu,air mata keluar begitu saja membasahi pipiku. Hatiku remuk oleh kata kata itu. Kata kata yang masih terngiang jelas laksana mesin perekam yang diputar berulang ulang.
Tak kusangka Noval berdiri disampingku “Kamu sendirian dari tadi?”Tanya Noval. Tak kusangka dia menyapaku. Padahal kami tak pernah bercakap- cakap sebelumnya.
“salahkah bila aku sendiri disini?” Tanyaku. Aku hanya berusaha terlihat cuek.
“Apa yang kau sukai dari tempat ini?” Tanya Noval kepadaku, nadanya amat tenang namun penasaran, aku menoleh kepadanya,
“Kesunyian, kesejukan dan aku bisa melihat kembali masa lalu dan masa depanku dikesunyian, dikesunyian aku biasa merenungi segala hal dengan amat jelas dan ditail” Jawabku pelan.
“Apakah aku mengganggu renunganmu disini?” Tanya Noval, ia sedikit tersenyum, kufikir ia menganggapnya lelucon kecil.
“Tidak” jawabku.
“sama sekali tidak mengganggu?” Lanjutku,
“Nama kamu siapa?” Tanya Noval, senyum itu amat menawan,
“Namaku Nur Maulidia, panggil saja Nur” Jawabku kalem, dia tersenyum
“Noval” sautnya sembari menjabat tangannya padaku. Sebenarnya aku tahu namanya, hanya saja aku berpura-pura tiada mafhum siap dia. Semenjak saat itu kami dekat, dekat laksana bunga dengan lebah.Ia selalu menemaniku, Maria juga kukabari tentang Noval, aku merasa cahaya yang pergi itu kembali ada.
Setiap hendak tidur. Kutulis kisahku dengannya dibuku harianku.

David, kemanakah aku hendak temukan kau sementara kau ingin aku tak menganggapmu ada, batinku
tiada kuasa melakukan itu.Tangisku hanya pada kau David, kini aku kelas 2 SMA, ingin kembali kulihat kau tersenyum, namun aku tiada daya mencari itu karena dia datang. Dia hampir sama akan engkau wahai Davidku. Laksana cahaya dia hadir .Mungkin aku mulai sembuh, dari luka batin yang begitu dalam, sembuhnya amat pelan, itu karena hadirnya dia.  Noval Fadil  namanya. Dirasa dekat dirimu disampingku bila ada Noval.Tangisku ini tiada nasip untuk engkau David, karena cinta memang dapat membuat gila. Cinta itu penyakit yang mematikan, tak menyerang badan tapi menyerang batin. David aku rindu akan engkau. Cinta itu tidak pernah salah, namun aku yang salah, dimanakah kau sekarang wahai David Pranata Aji Fibrian. Lelah hatiku hingga dapat menghitung setiap detiknya. Tangis diriku dapat membanjiri pipi dan ego.
 19 Februari 2011

Kututup buku itu dengan air mata.
        Hari indah dengannya amatlah berbunga dihati yang kosong ini, tiada tahu saya apakah ini cinta atau hanya rasa pelampiasan rindu yang memberontak. Aku dan teman-teman dikelas sedang makan dan kulihat Noval dengan Zia sedang berbicara, wajah emosi terpampang emosi entahlah apa. Apakah mereka bertngkar?
Diperpustakaan pada jam ke 8 aku membaca buku kumpulan Novel sastra, ya bila kubaca aku lebih suka membaca novel karya Buya Hamka. Ceritanya amat menyentuh hati. Kemudian kubaca juga karya DEE. Ceritanya amat membuatku berkhayal.
“Nur” Panggil Noval
“Ssssttt” suruhku agar tidak dimarahi penjaga perpustakaan.
“Ada apa?”Tanyaku, dia berdiri sementara aku terduduk.
“Sabtu besok kamu ada acara?”Tanya Noval.
Aku memejamkan mata sejenak dan menggeleng kepadanya “kufikir tidak” jawabku
“kamu maukan ikut denganku?”Ajaknya
“Kemana?” tanyaku
“Pantai Balai Kambang” jawabnya
“Entahlah, siapa saja yang ikut?” tanyaku lagi
“cuman kita berdua, kita naik bus” jawabnya.
“Bagaimana dengan pacarmu?” tanyaku lagi
 “Oh.. zia? Kami putus, dia tak benar-benar mencintaiku dan itu telah menikam hatiku” jawabnya.’’ Bagaimana bisa?’’ tanyaku
‘’ rumit ceritanya, aku tak mau bahas itu lagi.’’ Jawabnya yang terlihat lesu.
Hari semakin sore, aku pulang sekolah denga badan yang capek. Ingin segera ku siram badanku dengan air dingin.
Dirumah aku hendak  membuka pintu dan tiba-tiba seseorang mengejutkanku ”Nur” teriaknya sembari memelukku. “Maria,kapan kamu datang?” kejutku, diriku sontak kaget dan amat senang bukan kepalang. Sahabat yang telah menjadi cahayaku datang, kami berpelukan melepas rindu.
“Ini temanmu sudah menunggu dari tadi siang lho nduk” kata ibuku dengan penuh senyum
“Ajak ngobrol gih!” suruh ayahku.
Aku dan Maria berdua didalam kamar, kami mengobrol dan bercanda mengenai masa SMP. “Nur tahu tidak? Aku dapat kabar kalau David sekarang sudah tidak play boy lagi, itu terjadi semenjak ayahnya meninggal kemarin 2 hari yang lalu”. Aku hanya menutup mulut dengan  kedua tanganku, terkejut oleh berita itu sekaligus teringat lagi kejadian yang memilukan batinku itu. Ya Tuhan kenapa Maria menyebut nama itu lagi.’’ Sungguh kasian dia.’’ Ujarku’’ dimanakah dia sekarang?’’ tanyaku.’’ Dia sekarang bersekolah di SMK NEGERI SINGOSARI daerah Mondoroko.’’ Emm.’’ Jawabku mengangguk.
“oh iya Nur, kamu gimana disekolah barumu, udah punya pacar?” Tanya Maria.
“Kamu ngomong apa sih, sebenernya aku punya temen, tak tahu bagaimana rasaku padanya?” jawabku malu malu, aku tak tahu bagaimana expresi wajahku sekarang.
“Aku penasaran?” Paksa Maria
“Oh itu tak penting kamu tahu” jawabku, ku alihkan pembicaraan agar tidak panjang lebar.  kami bercanda ria dengan tiada kanal waktu.
Sabtu pada sore hari aku sudah siapkan semua yang disuruh Noval. Kedua orang tuaku telah memberi izin. Aku duduk dilobi sekolah, tentulah aku  masih menggunakan seragam sekolah. Lagian jarak Kepanjen ke Balai Kambang lumayan.
“Nur, siapkah engkau?” Tanya Noval, ia tersenyum. Aku ingat sesuatu, sesuatu yang hilang
“sudah vid”jawabku
“Vid???” ulang Noval heran.
“emmm maksutku sudah val” jawabku, kurasa wajahku merah, aku malu sekali. Bodohnya aku, bagaimana aku bisa ngigau disiang bolong. Menyebut nama David lagi. Oh Tuhan, tak bisakah dia benar benar pergi dari kepalaku. I am so sad whit all of this
“Yaudah yuk kita berangkat” ajaknya. Kita menaiki bus dan duduk dikursi yang berisi 2 orang. Karena jam sudah sore, sekitar pukul 4 sore bus akan sampai pada malam. Kami mengobrol ria, beberapa canda ringan seperti. ‘’ benda apa yang tidak di darat, tidak diudara dan tidak di air namun memakan semuanya.’’ Tanyaku.’’ Apa yaa. Waktu.’’ Jawabnya. Kemudian kutanya lagi dengan canda.’’ Apa bahasa inggrisnya Keramas.’’ Tanyaku. Dijawablah’’ the Golden Monkey.’’ Jawabnya. Sedikit sebal aku karena semua tebakanku berhasil ditebaknya.  sampai tak terasa aku tertidur dibahunya. Kurasa tangannya membelai rambutku dengan lembut. Itu perasaanku saja atau memang benar adanya. Entahlah.
                                                                        ***

Aku berdiri sendirian dalam sebuah hutan, kurasa gerimis dan tanahnya becek.Kucoba berjalan didalam hutan yang lembab dan bertanah licin. Aku sendiri heran dimana diriku berada, ketika kakiku hendak menanjak aku terjatuh, sebuah tangan putih mengulur kedepan mukaku, kutoleh keatas melihat dari ujung kakinya “David”.Diriku berdesir dan sesak oleh rindu, dia hanya tersenyum tak berkata tiada berucap, hanya senyum yang menawan.
Bagaimana mungkin dia ada disini, kusentuh tangannya  dan semuanya tiba tiba memudar.
                                                                        
***
“Nur bangun” kudengar suara itu, kini insaflah aku bahwa tadi hanya mimpi. Betapa bersyukurnya aku memimpikan David Pranata.
“Pulas sekali kau tidur,tapi kita sudah sampai” ujar Noval. Matanya sipit dan senyumnya buatku ingat David. Aku merasa nyaman dengannya, seperti sakitku sembuh perlahan.Kuharap berteman dengannya dapat menarikku dari dalam hutan cinta yang tiada nasib bagiku. Kami berjalan dipinggir pantai. Hari masih malam, kami berdua makan mie instan dan kopi susu, untung Noval bawa kompor mini. Obrolan kami  hanya sekedar pengalaman, namun aku tiada kuasa cerita tentang David padanya, janganlah ada yang tahu. Biarlah dia hanya hidup dalam hatiku yang lunak.
Pagi-pagi buta aku terbangun dari tenda kecil, kucari dimana Noval, ia berdiri menghadap laut. Ombaknya menggulung-menggulung indah.
“Kamu kok nggak tidur sih?”tanyaku
“sudah” jawabnya, ombak menari menggulung indah,
“Nur, boleh aku berbicara sesuatu kepadamu?” Tanya Noval, terheran aku pada laki-laki ini.
“ya ” jawabku polos
 “Menurutmu apa sih cinta itu?” Tanya Noval dengan mengangkat alisnya yang samping.
“Cinta itu gila, cinta itu pembunuh, namun cinta itu tidak pernah salah” ujarku dengan senyum.
“Nur, tiada berat hatimu bila cinta itu kini telah hadir didetak jantungku, tak sanggup saya memikul beratnya cinta bila sendirian, karena itu sediakah nuranimu memikul cinta bersamaku?” ujarnya dengan merendahkan badannya. Ucapan itu searah dengan suara angin dan ombak laut balai kambang.
Aku sendiri bingung, aku tak tahu perasaanku terhadapnya. Cintaku hanya untuk  David, namun mengapa aku harap yang jauh, yang tiada mungkin nasip didapat. Noval dapat membuatku bahagia, dia juga mirip David, dia juga dekat, aku hanya  tinggal bilang iya. Hatiku dilemma, yang dekat ada mengapa nuraniku ingin yang entah dimana dia. Tapi bila difikir Noval telah beri warna dihidupku.
“Baiklah, kurasa akan kucoba” jawabku, Noval memberiku cincin indah. Matahari mulai terbit kemerahan, Noval memegang pipiku dan sekecup bibir lembut ubah suasana, aku tiba tiba terbatuk dan aneh sekali.’’ Nur, kamu sakit?’’ Tanya Noval.’’ Tidak.’’ Jawabku.’’ Tapi kamu mimisan.’’ Ujarnya, kuusaplah kini hidungku.’’ Tak apa. Ini sudah biasa.’’ Jawabku, Noval masih saja heran. Apakah ini masih pantas disebut biasa?  kini semuanya telah berubah. Karena hari itulah kami sering berkencan sampai banyak siswa yang tahu. Bila boleh jujur hidupku berwarna lantaran meras a David yang kugenggam lengannya, David yang cium bibirku.
Dirumah aku dan keluargaku bercanda ria didepan TV, namun tiba-tiba sebuah telephon berbunyi didalam kamarku.
“Hallo” panggilku, nomornya tampak asing.
“Apa ini Nur?” Tanya suara itu, kudengar suara itu kukenal dan cukup familiar.
“Siapa?” tanyaku
“Saya David, masih ingatkan?” Tanya David.
Jantungku yang tadi berdetak laksana disengat listrik yang mematikan. Tiada terasa pipiku basah oleh air mata, setelah sekian lama tak lihat pesonanya. Ingat kembali diriku oleh masa itu, dimana aku hanya bisa menunduk dengan tangis.
“David?Kamu dapat nomor saya dari mana?” Tanyaku heran
“Itu tak penting, aku hanya ingin meminta maaf padamu, sediakah besok engkau menemuiku. Dimana kau sekarang?” Tanya David.
“Sekarang aku tinggal di Kepanjen” Jawabku sembari menyeka air kesedihan dipipi.
“Kutemui kau dikantor pos kepanjen” Jawab David.Dia dulu menjadi kakak kelasku, dialah yang aku cintai. Lantas bagaimana dengan Noval. Entahlah, biarlah semua mengalir bagai air.
 “ya, ku usahakan datang” sahutku
“Makasih ya?” ucapnya. Sekali lagi air mataku meleleh, harap ini menjadi tangis, malamnya aku tidur dan bermimpi akan dia.
Esoknya seperti biasa aku bertemu Noval dan bercanda ria. Kami berkencan di taman sebelah sekolah dengan beberapa cemilan ringan.
“Nur sediakah nanti kau ikut saya lihat sepak bola?” Tanya Noval, aku hendak mengiyakan namun ingatlah aku akan sesuatu. Lagi pula aku tak terlalu apresied dengan sepak bola.
“Emmm sepertinya tidak bisa, aku ada acara ke Malang hari ini bersama kedua orang tuaku” Jawabku, terpaksa berbohong diriku. Hari inilah aku akan bertemu dengan nyawaku lagi, hari inilah aku akan bertemu dengan mimpiku lagi, setelah pertengkaran pilu itu hancurkan hayat. Dari sekolah aku lari melewati jembatan sungai menuju kantor pos, ketika berhenti dengan terengah, kulihar dia berdiri mengenakan kemeja putih. Sungguh tampan dan mempesonah dia, siapapun yang melihatnya pasti akan buta oleh cinta. Beda denganku, aku sebenrnya buta oleh cinta tapi aku tak mau buta, maka akupu gila oleh cinta.
“David?” panggilku.
“Nur, syukur aku karena kau datang pula” jawabnya senyum, kami bersalaman dengannya. Sudah lama tak kusentuh tangan dingin itu. Ingatlah diriku saat ia menutup mataku diruang osis.
“Ikutlah tiada protes” ajaknya, hatiku sudah tertutup oleh bunga yang bersemi kembali.
“ya” jawabku, kami menuju Malang kota, berjalan-jalan di Mall. Setiap didekatnya hatiku berdegup kencang, tiada tahu siapa diri ini sebenarnya. Hujan mengguyur deras, kami mampir di SS sebentar
“Mengapa kau ajak diriku sejauh ini David?” Tanyaku
“Nur tak kuasa saya berjauh darimu, sesal itu mengejarku sampai kedalam sukma, maafkan aku yang telah melukai hati halusmu yang laksana embun pagi itu, seharusnya tak pantas saya untuk bermarah padamu lantaran kau yang benar.Tak seharusnya aku seperti itu, Maria itu sahabatmu fahamlah saya bila kau tiada terima bila saya sakiti dia, namun demi Tuhan insaf saya, bahwasannya semua ini tidak ada gunanya, aku yang terlalu egois.
 Namun tangismu waktu itu telah leburkan egoku. Sekali lagi maafkan saya” Ujarnya.
Baru aku sadari bila air mataku sudah basah di pipiku, tak mampu kuberucap “Nur mengapa kau menangis?” Tanya David
“Terima kasih David, aku memaafkanmu” Jawabku
Hari yang indah itu berikan warna pada hidupku, pengharapan itu telah hadir, tangisku hendak berhenti saja.Dirumah aku datang ketika malam hari.
 “Darimana saja Nur?” Tanya ayah
“Tadi aku sama temen-temen ke Malang” ujarku
“Kok nggak izin?”
“Maaf” Karena kejadian itu aku terkena tegur. Baru aku istirahat dan membenamkan kepala aku dikasur,hanphoneku bordering, kulihat Noval yang menghubungiku
“Hallo” panggilku
“Nur kamu kok terdengar lelah” khawatir Noval
“Aku baru datang dari Malang” jawabku dengan suara parau.
“Apa aku mengganggu?” Tanya Noval
“Sama sekali tidak” jawabku
“Emmm sebaiknya kututup ponselnya biar kau istirahat” Kata Noval
“Hai aku baik-baik saja” Ujarku pelan, aku rindu suaranya. Tapi aku lebih rindu suara David.
“Tak apa” Terus Noval. Akhirnya ponselnya ditutup pula. Noval memang lelaki yang baik, tak pernah ia membiarkannku repot oleh hubungan kita. Bila aku ujian, takkan ia menelfonku, bila aku kesulitan, dibantulah aku menegerjakan PR. Masih banyak lagi kebaikan darinya yang dirasa sulit bisa kubalas.
Aku terduduk sejenak menulis buku harianku,

kata orang masa lalu tak semua menyakitkan, dia kembali, David kembalikan cahayaku. Ia datangkan lagi pengharapanku, Hayatku kembali bernafas.
Setelah sekian lama tiada bertemu rinduku memuncak jua, aku bingung bagaimana dengan Noval, dia laki-laki yang baik, tak ingin aku menyakitinya namun David, dialah yang aku cintai sampai sekarang, kejanggalan terbesar aku takut akan jatuh lagi. Aku tak ingin dikuasai cinta itu lagi, namun insaf aya bahwa tak kuasa aku membendung rasaku kepada cintaku yang pernah hilang.

Tak kuberi tanggal buku diaryku itu aku terlelap. Sadarku sudah hilang lantaran tenggelam oleh kantuk dan Lagi-lagi aku memimpikan David.
Pagi hari disekolah aku sendirian dihalaman, namun tak lama kemudian Noval datang,
“sendirian saja?” ujarnya
“Emmm sekarang sudah ada kamu” jawabku dengan nada bercanda
“Minggu depan sediakah dirimu ikut aku ke Malang?” ajaknya
“Noval kalau boleh jujur aku capek harus jalan-jalan jauh, aku tau niat kamu baik tapi kita bisa ketempat yang dekat seperti stadion kanjuruan” usulku.
“good ide, I like it” jawabnya

Dirasa sunyi dihalaman, tiba-tiba hujan mengguyur kami berdua menuju lobi dan tiada orang disana.Mereka semua sibuk hanya kelasku yang istirahat. Noval mengenakan jaket coklat. Kepalanya hendak mendekati wajahku, bibirnya lembut menyentuh bibirku, kurasa wajah David yang dekat dan syahdu.
Setiap hari saat malam David menelphone, kini aku merasa sembuh. Pernah kuberanikan untuk bilang kalau aku kagum padanya eh tiba-tiba ponselku mati.
Minggu pagi aku dan Noval berangkat ke Kanjuruan, pertandingan persija dengan arema, sebenarnya aku tidak terlalu suka sepak bola itu semua karena ada Noval yang kupandang David disampingku, kusandarkan kepalaku di pundaknya.

Sore hari Noval mengantarku makan, hari ini aku ingin mentraktirnya, kubuka tasku kuacak isinya dan kuambil uangnya. Didepan rumah, Noval mengecup kening “Thanks for everyting” ucapku, “Never mind” jawabnya. Ingin sekali kutulis hari ini dibuku harianku, tapi ketika kugeledah entah kemana, seingatku tadi aku menjaga tasku. Aku bingung, duniaku kucurahkan dalam buku diary itu,
“Oh Tuhan tolong aku” ujarku dalam hati,
“Kenapa Nur?” Tanya ayah
“Buku diaryku hilang ayah” jawabku
Aku bingung, tiba-tiba saja perutku jadi sakit, isinya yang amat penting. Hari ini aku mengalami kesialan kecil atau bad day. David tak menelphon hari ini, buku diaryku hilang, aku tertidur tiada istirahat.Mimpi buruk datang dengan mengerikan, sesekali aku bangun dan menjerit.
Esoknya aku berangkat terlambat, aku terkena pares di upacara hari senin. Setelah upacara masih ada waktu istirahat 15 menit.
“Nur saya hendak bicara denganmu dilantai 3 sekarang!” Kata Noval
“Kenapa tak disini saja?” Tanyaku
“Aku ingin empat mata saja” jawabnya, kami berdua naik ke lantai 3 yang sunyi dan tertiup angin.
“Ada apa sebenarnya Noval?” Tanyaku pelan
“Saya hanya ingin kamu menjawab dengan jujur!” suruhnya, aku jadi suudzon padanya
 “Maksudnya?” Tanyaku heran
“Saya ingin mengembalikan buku ini padamu, kemarin direstoran tak sengaja jatuh, maaf saya telah baca semua” ujar Noval
“Noval kamu harus percaya isi buku itu gak seperti yang kamu bayangkan, aku cinta sama kamu” ototku, air mata turun jua dari mataku. Aku takut akan amarahnya, aku takut ia anggap diriku munafik, pendusta dan sebagainya.
“Sssssstttt saya sudah faham” katanya sembari menarik nafas sejenak. Ia meletakkan telunjuknya di bibirku. Jantungku berdetak amat cepat.
“Saya tidak ingin kamu merasakan sakit ini terlalu lama” ujarnya sabar
“Tapi aku malah merasa nyaman  dengan kamu” jawabku, air mataku tak tertahankan.
“Nur” ujar Noval sembari memegang tanganku.
“Kamu nyaman karena hati kamu tak disampingku, kau bahagia bukan karena aku tapi karena kau anggap aku David, baru insaf saya bahwa saya tak bisa buat kamu bahagia, kamu lebih bahagia dengan David itu” ujar Noval
“Aku cinta sama kamu” Paksaku, aku tak tau harus bagaimana
“Sekarang saya Tanya, kalau kamu tak pernah kenal David apa kamu akan kenal saya atau kalau kamu tidak mencinta David,apa kamu akan mencintai saya. Saya fikir itu tidak akan terjadi, kamu itu butuh bahagia, bahagia kamu itu ada di David” katanya, aku menangis sejadinya, kini tak tau harus bagaimana. Noval memelukku dan mengecup keningku.’’ Ssssst. Sudah jangan menangis bunga cintaku.’’ Ucapnya berusaha menenangkanku.
“Mulai sekarang kamu bebas, aku melepasmu, jagan kau sakiti dirimu sendiri” ujarnya dengan mengecup keningku sekali lagi, aku menangis dalam pelukannya. Hatiku kini tak tahu harus bagaimana, Noval dia tahu perasaanku tapi sekarang dimana aku mencari cintaku.
1 tahun kemudian.
Sudah terlalu lama dirasa. Noval kini laksana sahabat. Semester 2 terpaksa aku tak bisa ikut. Ingin sekali aku seperti yang lainnya.
Aku kini tiada dapat berdiri, tubuhku terbaring lemah di Rumah Sakit Saiful Anwar, aku difonis menderita kangker paru-paru stadium 3. Terlambat sudah peluangku, awalnya tak kusadari sakitku ini hingga setelah aku tahu selama ini aku depresi dan itulah penyebabnya. Ku tak mau Maria, Noval atau David tahu tentang ini cukup keluargaku saja. Tapi rahasia itu terbongkar jua, laksana bangkai disembunyikan pasti akan tercium jua.  Pernah jua kutulis saat aku terpukul.

Sungguh tangisku ini deras amat pilu, cintaku tak tau dimana empunya, belum diperolehnya dia diriku. Begitu cepat dunia ini berjalan, samapi ajal hendak dating dikala cinta belum ku dapat
      Air mataku mengalir tiada tahan oleh derita batin, aku yakin Allah punya rencana lain dibalik semua ini. Kutulis dan ku lanjutkan lagi buku diaryku.
     Tuhan, bila kala usia ini hendak habis saya mohon izinkanlah saya rasakan cinta bersamanya. Bersama David walau hanya sejenak, sungguh bertahun-tahun hatiku menangis lantaran cintaku tak sampai. David aku cinta akan engkau

Air mataku sekali lagi berlinang. “Nur, hari ini cerah, tak ingkankah kau menemui Maria, dia menunggumu” ujar ibu
“Ayah mana?”
“Ayah masih sholat asyar” jawab ibu, aku bangun dari kasur rumah sakit, kubuka pintu kamar dan kutemui sahabatku itu.
“Maria?” panggilku
“Maaf nur saya baru bias jenguk sekarang” ujarnya sembari memelukku.
“Nur ada yang ingin saya bicarakan sama kamu” katanya. Aku bertanya-tanya dalam hati
“Apa itu wahai Maria?” Tanyaku pelan
“Bisakah kita bicara empat mata tanpa ada yang mendengar” suruhnya
“ya ” jawabku polos
Kini kami berdua dilorong rumah sakit ini. Kurasa lorong sepi
“Nur maaf sebelumnya, saat kau pingsan tanpa sengaja ku baca buku harianmu” suasana hening. Aku hanya menundukkan kepala, semua sudah terlambat,  dia sudah tau semuanya.
“Aku tahu semuanya sekarang Nur, namun baru saya insaf kalau selama ini kamu mencinta David, tapi semuanya sudah berlalu karena David telah kuberi tahu” katanya, saat dia menyebut nama itu hatiku seketika meledak.
“Mengapa kau memberitahunya dan dimana dia?” Tanyaku, matajku sudah berkaca kaca.
“David sedang di Kalimantan, ia telah bekerja disana, namun mendengar kau sakit dan kau mencintainya  dia hendak kemari” jawab Maria, air mataku turun perlahan
“Mengapa dia hendak kemari?” tanyaku
 “Karena baru saya insaf dia jujur pada saya bahwa David juga teramat cinta akan engkau” mendengar kata cinta itu aku menangis. Tak terbayangkan betapa sia sia waktu ini karena cinta yang terpendam dan baru diketahui saat ajal hendak menjemput. Sseketika aku terduduk dilantai dan menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku lantaran tak menyangka. Semua terjadi begitu saja.’’ David juga menitipkan surat ini terhadapmu.’’ Ucap Maria, kuterima surat itu. Kubuka perlahan.

Kepada dia yang sudah lama menangis
Memang terlambat ya Nur, semua berlalu begitu saja, namun apa daya saya, yang kau rasa sama denganku. Kita sama sama malu untuk ajukan rasa dalah qolbu masing masing.
Maafkan saya wahai Nur, baru sadar saya bahwasannya Cinta ini tak mengenai diriku serorang, tapi mengenai kita berdua. Bila kala masih diberinya kesempatan. Semoga Tuhan mencabut sakitmu,
Wahai Nur. Cintaku tumbuh begitu saja tanpa pupuk, maafkan saya yang telah urai air matamu sampai kering, insaflah saya bahwa bila cinta sudah berkalam. Jasatpun tak bisa apa apa, saya hendak temui kau. Sudah diperoleh saya pekerjaan Nur, hendaknya saya menemani sepimu, biar kita sama sama tercapai Cintanya, bila kala kau Tanya kemana diriku, aku ke Kalimantan Nur. Saya hendak menyusulmu, biar tuhan yang meridhoi cinta kita.
Saya tahu, betapa lama sakit cinta itu kau rasa seenjak SMP. Maaf kan saya sekali lagi wahai Cintaku yang berdebu. Sekiranya ini dulu surat dari saya, saya mohon cintamu Nur.
Aku Cinta akan engkau, Aku Cinta.
David

“Dia tidak punya keberanian didepanmu. Tapi besok pagi dia akan datang kemari” ujar Maria
“Wahai Maria, beginikah akhirnya cinta bertemu walau didepan gerbang ajal” ujarku dengan tangis, mengapa tak dari dulu saja dia ucapkan cinta padaku. Mengapa aku harus malu, toh dia juga cinta akan dirku ini.
Pagi yang menyakitkan telah datang, aku baru saja sarapan, tadi pukul 6 pagi Noval menjengukku, ia membawakanku sebuah liontin berbentuk bunga latulip, dimana bunga itu adalah bunga kesukaanku. “Nur” panggil Maria yang menangis
“David” ujarnya
“Mengapa dengan dia bukankah kau bilang dia hendak kemari?”ujarku penasaran
“David kecelakaan hebat tadi malam, ia hendak menuju kemari namun terlambat sudah, sepeda yang digunakannya menabrak  truk besar di Surabaya, berita itu baru sampai tadi malam. dia mengalami buta dan sekarang masih diruang ICU” katanya. Tubuhku terlalu lemah untuk menangis, tak kusangka, mengapa harus begini akhirnya.’’ Daviiiiiiiiiiiiiiiiiid.’’ Teriakku histeris dengan menangis tubuhku lemas dan pingsan diriku seketika.
                                                                        ***
Aku tak tahu dimana aku, kulihat ada dua pintu didepanku, yang satu megah, yang satu rapuh dan lapuk “kau hendak masuk yang mana?” kata sebuah cahaya, aku hanya tersenyum. Tempat apakah ini, begitu putih laksana kubah raksasa, luas sekali dan siapa sosok cahaya ini, ia amat sempurnah.’’ Pintu apa ini? Tanyaku.’’ Tak penting itu pintu apa, namun pilihlah disalah satunya, aku bingung, pin tu jelek nun lapuk itu entah kenapa  kupilih  “yang ini”  jawabku.
                                                                        ***
Aku terbangun sejenak, “Nur sudah sadar kamu?” panggil ayah
“Ayah, ibu, Maria saya ingin sendiri sejenak” pintaku
“kenapa Nur?” Tanya ibu dengan tangis, aku baru saja terbangun dari pingsan yang meremuk redamkan hayat.
“Tolong” pintaku dengan suara parau, dituruti permintaanku, kusendiri sekarang dan kutulis sebuah surat penghabisan. Surat yang akan menghabisi kisahku kepadanya. Cintaku harus berakhr seperti ini.

Kepada kau yang jadi mimpiku.
Hidup ini hanya laksana cermin, dibilang nyata tidak dibilang ghoib juga tidak, kita hanya sebentar namun sekarang pintu ajal sudah didepanku. Semua sudah terbongkar, kita saling cinta yang tiada nasip David, aku cinta akan engkau sadari SMP, maaf bila semua terlambat, namun inilah takdir Tuhan, bila kala banyak sekali halangan pertemuan cinta kita yang ada di dunia yang sebentar ini, masih ada Allah yang meridhoi cinta kita, kutunggu kau diruang rindu. Aku akan pulang dipangkuan Tuhan,  terimah kasih atas cintamu David, tak perlu kumaafkan kau lantaran kau suci dari salah. Memang cinta butakan segalanya, termasuk batin manusia.
Cinta memang rubah segalanya yaa. Tiada ingat bahwa sudah 5 tahun saya kenal akan dirimu, namun baru sekarang saya sadar bahwasannya kita saling mencintai. Cinta yang akhirnya bermuara didepan kematian. Wahai cinta, bersabarlah, bersabarlah. teruskanlah hidupmu, sempurnakan hidupmu. Maaf karena saya baru sadar, bahwa cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda.
Hidupku sudah akan berakhir,akan pergi aku dari dunia yang fana nun sementara ini ingin ada yang kutinggalkan padamu wahai cintaku yang bersemi.yang menjadi sumber hidup hayat dan ragaku Kuserahkan mataku padamu, sembuhlah David, kembalilah sebagai David yang kukenal, ceriah. Mengapa kuserahkan mata ini padamu?  karena mata ini saya mafhum kamu dan rasa cinta. Karena hanya kaulah yang terpatri dalam hayat. Kau yang selalu ada dalam nyata, mimpi dan diantara mimpiku. Aku akan pergi,  karena mata ini, aku melihatmu dan jatuh hati. Rasa itu awalnya hanya kecil, namun tumbuh menjadi cinta yang kubawa sampai mati. Bila kala aku telah bersemayam di rumah terakhirku, kunjungilah makamku sesekali dan taburilah bunga mawar putih serta melati yang berarti cinta kita masih suci, belum ternoda warnanya.                                                                                                            
Hanya satu permintaan terakhirku David, bacakanlah aku yasin dari mulutmu sendiri di makamku, sebagai tanda disanalah bersemayam pecinta yang telah berakhir perjuangan cintanya.
Sekiranya sampai disini suratku. Maafkan aku bila aku pergi lebih dulu darimu Selamat tinggal wahai cintaku yang berdebu. Aku cinta akan engkau, cintamu kubawa kealam baka. Biar allah yang menjadi saksi cinta suci kita.
Nur
18 Februari 2012

Setelah kutulis dan kulipat kuberikan surat itu kepada kedua orang tuaku “serahkan pada David” ujarku, lemah. Kedua orang tuaku membacanya, air mata mereka tak tahan lagi untuk keluar.
“Apa kau yakin?”Tanya ayah dengan menangis.’’ Kau pasti kuat nak, jangan bilang seperti itu.’’
“Itu permintaan terakhirku, maafkan aku?” ujarku yang lemah. Air mataku meleleh kesamping.
“Ayah tuntunlah aku dengan kalimat suci” pintaku, suaraku terbata bata.
“Kau pasti kuat” ujar ayah yang menangis pilu dan mengecup keningku.
“Saya akan pergi ayah” ucapku yang sudah amat lemah. Ayah membisiki telingaku, sudah sadar bahwa tuhan menakdirkan aku lebih dulu pergi daripada mereka “ASYHADUALLAILAHAILLALLAH, WA,ASYHADUANNAMUHAMMADUROSULULLAH” ucap ayah . ia amat tak tega, ucapannya terbata bata oleh tangisnya. Begitu juga ibuku yang memegangi tanganku.  Kuucap dengan mulut dengan suara lemah, kemudian bacaan itu diucap lagi, ku sudah tiada punya kuasa kuisyarat dengan kedipan kelopak mata, lantaran mulutku sudah tiada kuasa untuk berbicara dan yang ketiga kuisyarat dengan hati dan hembusan terakhirku.  Suasana hening sekejab itu juga.  Hanya duka lara yang pilu yang tersisa,
 Aku berada didepan pintu tadi,  yang lapuk telah hancur, sang cahaya menyuruhku masuk pintu megah itu dan kumasuki pintu megah itu. Kini aku pergi dipanggil sang ilahi biarlah mereka menangis. Biarlah air mata itu berlinang toh memang manusia hanya sebentar didunia, Cintaku tak harus memiliki namun aku pergi dengan senyum karena telah kuketahui. Rasaku tak sia sia. David juga mencintaiku.
                                                                        ***
Kedua orang tua Nur menangis sejadinya, uasana duka saat itu menyelimuti kedukaan mereka, gadis yang cintanya telah berseayam pada batinnya itu telah pergi untuk selamnya saat imemasuki dzuhur, dikecup kening mayat itu oleh Maria “selamat tinggal sahabatku, selamat tinggal.’’ Suasana pilu juga dirasakan oleh seluruh keluarganya.
7 hari kemudian
Laki laki itu terduduk, dibuka perban putih yang memutari matanya itu.’’ Sekarang anada bisa membuka mata anda.’’ Suruh sang dokter perempuan. Mata itu terbuka perlahan dan kini ia bisa melihat dunia yang cerah. Laki laki tampan itu tersenyum dan semangat ingin segera pulang agar ia dapat segera menjemputnya. Kecelakaan itu telah gagalkan rencana awalnya, sekarang ia dengan semangat hendak menuju malang. Namun Maria sudah menunggu didepan rumah sakit di Surabaya. Maria terlihat sedih, ia meneteskan air mata.’’ Maria, dimana Nur?’’ Tanya laki laki itu, wajahnya sudah penuh harap. Maria segera menyerahkan surat amanat itu. Tak kuasa laki laki itu menangis setelah membaca surat itu, kini dia dapat melihat lantaran donor mata dari Almarhumah Nur.
 Sore hari, saat matahari sudah berwarnah merah David terduduk dan membaca yasin didepan makam yang di nisannya bertuliskan Nur Maulidia meninggal pada 18 februari 2012. Sudah berkali-kali David membaca surat terakhir itu. Air matanya berlinang “Aku mencintaimu Nur. Rupnya kita tak dapat bersatu di dunia, biarlah ridho allah menyertai cinta kita di akhirat kelak” ucapnya. Dia hanya berdiri amat pilu dan tragis cinta dua pemuda itu. Harus dipisahkan oleh halangan duniawi yang berat.
Sekarang hanya tinggal sedih dan akhir yang duka lara.
TAMAT


TENTANG PENULIS

    

ALVAN.M.A adalah nama pena dari Alvan Muqorobbin Asegaf, Pria yang lahir pada 22 maret 1997 mulai menulis kisah Diantara Mimpi sejak kelas 3 SMP. Alvan juga adalah salah satu dari 2 bersaudara kembar yang bernama Elvin Maulana Asegaf, dan pada 2008 lahirlah saudara perempuannya yang bernama Alvina Cahaya Intan Safira. Awalnya ceritanya diterbitkan dalam bentuk buku dan catatan facebook, kemudian cerpennya yang berjudul Diantara Mimpi diterbitkan oleh situs Cerpenmu.com Alvan juga telah membuat buku cerita lainnya dan juga beberapa cerpen unggulannya. Pada tahun 2014 cerit ini diketik ulang denga versi pendek dan lebih padat, kemudian cerpen ini mengalami sedikit perubahan alur namun tak mengubah intinya. Alvan.M.A meang berkeinginan untuk menjadi seorang penulis dan pembuat film.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar